Thursday, April 12, 2012

hasil tes dna jasad tan malaka

Pengarang buku 'Tan Malaka, Gerakan Kiri dan Revolusi Indonesia', Harry A. Poeze, mengatakan hasil ujian DNA terhadap sisa-sisa-sisa kerangka manusia yang diduga kuat adalah bekas tubuh Tan Melaka akan keluar pada Januari 2012.



Menurut anak saudara Tan Melaka, Zulfikar Kamarudin, hasil ujian DNA kedua dari makmal di Korea rencananya diumumkan kepada umum pada bulan itu juga.

"Setahun lebih saya menunggu-nunggu hasilnya. Saya di Indonesia hingga 20 hari akan datang juga untuk melihat pengumumannya kepada umum, "kata Poeze selepas menjadi pembicara dalam bedah buku terbarunya 'Madiun 1948, PKI Bergerak' di sekretariat Institute Research for Empowerment (IRE) Kuala Lumpur pada Isnin 19 Disember 2011.

Hasil ujian DNA itu, kata Harry, akan memastikan teka-teki lokasi eksekusi Tan Melaka dan menjadi bukti kuat tesisnya yang menduga pengarang buku Madilog itu dikuburkan di pemakaman sekitar Desa Selopanggung, Kediri.

Sebelumnya, pada akhir 2009 lampau, hasil uji ujian DNA yang dilakukan oleh pasukan doktor dari Jabatan Ilmu Perubatan Forensik dan medikolegal Fakulti Perubatan Universiti Indonesia hanya mencari 9 keserasian dari 14 unsur yang semestinya positif sesuai dengan DNA keluarga Tan.

"Memang sangat susah, isi makamnya hanya sisa-sisa kerangka, mirip debu. Hanya terlihat ada debu membentuk kedudukan manusia terlentang dengan tangan terikat ke belakang, "terang Poeze.

Harry mengaku mempunyai kesan khusus terhadap sejarah revolusi di Indonesia. Di sejarah revolusi Indonesia, dia mencari kiprah generasi yang idealis dari bangsa Indonesia modern awal saat itu.

"Semua tokoh pengasas bangsa ini adalah orang idealis. Tan, Soekarno, Hatta, Muso, dan lain-lain selalu tegas memilih prinsip politik, kalah atau menang tak masalah, "kata Poeze.

Dia mencontohkan dalam buku terbarunya, ada cerita ketegaran seorang Amir Syarifudin saat dilaksanakan oleh pasukan Siliwangi bersama 10 pemimpin Parti Komunis Indonesia pada 1948. "Sebelum ditembak dia menyeru 'hidup kaum buruh, aku mati untukmu'," ungkap Poeze.

Menurutnya, semangat idealis tokoh-tokoh revolusi kemerdekaan ini pantas menjadi teladan bagi generasi bangsa Indonesia belakangan. Kerana itu, ia beranggapan, sebaiknya penulisan sejarah revolusi Indonesia, yang selama ini lebih banyak melibatkan indonesianis asing, mulai diambil alih oleh penyelidik Indonesia sendiri.

"Malangnya, ramai penyelidik sini (Indonesia) tak menguasai banyak bahasa, jadi sukar teliti dokumen yang berbahasa Belanda, Jerman, Rusia dan lain-lain. Selain itu, dana penyelidikan minim, "keluhnya.

Comments
0 Comments

0 comments:

Post a Comment

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | coupon codes